Catatan Lapangan dari Aceh Tamiang: Perjalanan Kemanusiaan Dosen STAI As-Sunnah dalam Misi Peduli Kemanusiaan Korban Banjir2025
Oleh: Ustadz Indra Rustam, M.Ag.
Dosen STAI As-Sunnah & LIPIA Medan
Bencana banjir yang melanda Aceh Tamiang pada akhir 2025 meninggalkan cerita duka yang tidak mudah dilupakan. Dalam kesempatan itu, saya bersama tim relawan gabungan dari Salam TV, Yayasan Peduli Kemanusiaan Ar-Risalah, STAI As-Sunnah, dan Ponpes At-Tibyan melakukan Misi Penyaluran Sembako Tahap III.
Misi ini tidak sekadar pengiriman bantuan, tetapi juga perjalanan batin, pembelajaran sosial, dan pengalaman lapangan yang membuat saya semakin memahami betapa beratnya kehidupan warga pascabencana.
Memasuki Lokasi: detik pertama yang menghentak
Ketika pertama kali memasuki wilayah Kota Kuala Simpang dan daerah sekitarnya seperti Kota Lintang Bawah, Alur Jambu, hingga Purwodadi, saya langsung disambut pemandangan yang memukul hati:
rumah-rumah dipenuhi lumpur pekat, perabotan rusak terseret arus, dan warga berjalan lelah di antara tumpukan sampah dan puing.
Dalam beberapa titik, saya melihat rumah warga hampir tenggelam oleh lumpur tebal, terutama bagi mereka yang tinggal satu lantai. Walaupun jalan utama sudah mulai dibersihkan, rumah-rumah penduduk masih terkunci oleh lumpur berat yang sulit dibersihkan tanpa air bersih dalam jumlah besar.
Di malam hari, kondisi semakin memprihatinkan. Wilayah masih gelap gulita karena listrik belum juga dipulihkan. Warga hanya mengandalkan cahaya seadanya, membuat aktivitas malam menjadi sangat terbatas.
Observasi Lapangan: yang tak terlihat oleh kamera dan laporan resmi
Salah satu bagian penting dari perjalanan kami adalah melakukan observasi langsung di lokasi-lokasi yang belum tersentuh bantuan sama sekali. Dari hasil pengamatan, saya mendapati bahwa:
-
Banyak kampung yang letaknya jauh dari jalan besar terisolasi.
-
Akses menuju beberapa lokasi tidak bisa dilalui kendaraan biasa karena lumpur, jalan ambles, dan infrastruktur rusak.
-
Warung dan toko grosir hancur, sehingga pasokan logistik lokal berhenti total.
Dalam sebuah percakapan ringan namun menyentuh, seorang ibu berkata sambil tersenyum letih:
“Pak, kalau bisa… kami ini butuh suami yang bisa bantu bersih-bersih.”
Kalimat itu terdengar lucu, tetapi sebenarnya adalah ungkapan keputusasaan yang dalam.
Distribusi Bantuan: dari sporadis ke terstruktur
Dalam dua misi sebelumnya, kami langsung menurunkan bantuan di titik kumpul dan pengungsian karena kondisi sangat darurat. Namun kali ini, kami mengambil pendekatan berbeda:
pemetaan wilayah terlebih dahulu, lalu menyalurkan bantuan berdasarkan data warga yang belum mendapat bantuan sebelumnya.
Dari hasil pemetaan tersebut, kami menurunkan bantuan di beberapa titik strategis:
-
RSUD Kota Kuala Simpang kami pasok dengan obat-obatan.
-
Kelurahan Kota Lintang Bawah menerima paket sembako melalui posko resmi.
-
Kampung Alur Jambu dan Purwodadi kami prioritaskan karena masih banyak rumah yang terseret arus dan belum mendapat bantuan.
-
Posko Masjid Muhammadiyah Paya Bedi kami jadikan penyalur lanjutan untuk menjangkau daerah yang tidak dapat kami akses.
Total, kami membawa 460 paket beras, seribu lebih sembako, dan berbagai makanan siap konsumsi.
Refleksi Akademik: ketika lapangan mengajar lebih dari teori
Sebagai seorang dosen dan peneliti, saya merasa pengalaman lapangan ini memberikan sudut pandang penting tentang kapasitas daerah menghadapi bencana besar.
Dari pengamatan kami, saya menyimpulkan bahwa:
-
Skala kerusakan terlalu luas untuk ditangani hanya oleh pemerintah daerah.
-
Alat berat sangat terbatas, sehingga proses pemulihan sangat lambat.
-
Beberapa wilayah terisolasi tanpa akses bantuan berhari-hari.
-
Infrastruktur tanggap darurat perlu diperkuat secara menyeluruh.
Melihat luasnya dampak dan lamanya proses pemulihan, saya menilai bahwa kondisi Aceh Tamiang layak dipertimbangkan sebagai bencana nasional agar intervensi pemerintah pusat dapat dilakukan secara masif.
Penutup: komitmen kami sebagai insan akademik
Perjalanan ini membuat saya semakin yakin bahwa tugas akademisi tidak hanya berada di ruang kuliah. Kami harus turut hadir di tengah masyarakat—melihat, merasakan, dan memahami secara langsung realitas kehidupan mereka.
Berkat dukungan rekan-rekan, civitas akademika, dan lembaga terkait, kami dapat memberikan sedikit kontribusi bagi warga Aceh Tamiang. Namun, perjalanan kemanusiaan ini juga menjadi pengingat bahwa masih banyak pekerjaan besar yang perlu dilakukan bersama.
Semoga catatan ini bermanfaat, menjadi motivasi, dan menguatkan komitmen kita semua untuk terus berkontribusi bagi umat dan bangsa.

اللهم استعملنا في طاعتك ونشر دينك وخدمة عبادك
واجعلنا هداة مهتدين لا ضالين ولا مضلين
allahumma aamiin, terimakash doanya ustad